
loading...
"Kekuatan perempuan ada pada kelembutannya mengajarkan kesadaran kepada seluruh anggota keluarga tentang bahaya korupsi," ujar Lukman saat membuka Sosialisasi Program Pencegahan Korupsi Training of Trainer (ToT), di Hotel Lumire, Jakarta Pusat, Kamis (8/3).
Dalam kegiatan bertema Pencegahan Korupsi Berbasis Keluarga itu, Menag menggarisbawahi pentingnya memunculkan kesadaran tersebut. Faktor kesadaran adalah modal penting menjauhkan budaya korupsi sejak di lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
Bagaimanapun, sambung dia, korupsi sejatinya mendatangkan kerugian tidak hanya diri sendiri tetapi juga orang lain. Perkara yang sama sekali dilarang agama manapun.
Menag juga sempat berdialog dengan para serta tentang asal mula pemicu korupsi. Dari berbagai paparan argumentatif peserta, Menag menggarisbawahi selain faktor eksternal berupa sistem yang memancing tindak pidana korupsi, faktor internal yang tak kalah penting adalah ketidakmampuan mengendalikan nafsu duniawi yang terlewat batas.
Hidup untuk membiayai gaya hidup dan gengsi sementara pendapatan tak akan pernah cukup menutupi gaya hidup. "Ada gengsi seakan istri pejabat gaul sama sosialita. Ada tuntutan gaya hidup. Masa istri pejabat ngopi di kafe kelas mewah. Kalau tidak punya qanaah pasti akan merasa kurang saja dalam hidup dan ujung-ujungnya pasti korupsi," kata dia.
Dia mengajak segenap peserta yang merupakan istri pejabat di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) menjadi garda terdepan melakukan pencegahan tindak pidana korupsi. Peran strategis perempuan diyakini mampu memaksimalkan sektor tersebut, apalagi perannya berbasis keluarga.
"Kita sedang menorehkan sejarah untuk generasi ke depan agar punya kesadaran perangi korupsi. Selaku Menag saya bersyukur dan apresiasi atas inovasi perubahan gerakan antikorupsi," tuturnya.
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Panjaitan mengingatkan perang melawan korupsi hakikatnya bukan saja tugas KPK, melainkan juga tugas semua pihak, tak terkecuali perempuan dan kaum ibu.
Menurut dia, tugas KPK hanya pendorong dan pemacu semua kementerian, pemerintah provinsi, kabupaten, kota, dan seterusnya."Visi utama kita adalah pencegahan," kata dia.
Dia menjelaskan alasan para ibu dan perempuan penting dilibatkan memberantas korupsi. Berdasarkan sejumlah hasil riset KPK 2012 di sejumlah daerah terungkap, hanya 4% anak yang diajarkan kejujuran oleh ibu, sebanyak 80% pendidikan diperoleh dari ibu, dan 50% lebih penduduk Indonesia adalah perempuan.
"Kita anggap andai seluruh perempuan kita ajak bersama , sesuai dengan pekerjaaan masing-masing jaksa hakim PNS selalu ingatkan korupsi. Kalau di rumah ingatkan anak, adik, suami, dan di kantor ingatkan teman-teman rasanya pencegahan akan ringan," tuturnya.
Basaria pun mengajak ibu-ibu mengenali, memahami, mengingkatkan, lalu melaporkan tindak pidana korupsi agar bisa melindungi suami dan anak atau keluarga dari perbuatan melanggar hukum tersebut.
0 Response to "Menag: Peran Perempuan Penting dalam Upaya Cegah Korupsi"
Posting Komentar