
loading...
Siapa sangka ternyata mainan ataupun permainan tradisional yang dianggap jadul malah banyak memberikan dampak positif bagi anak.Saat ini mainan tradisional kembali mendapat perhatian dari orang tua untuk dikenalkan kepada buah hatinya.
Chandra Meutia dari Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia menjelaskan, timnya sedang mengaktifkan kembali mainan tradisional untuk membangun tumbuh kembang anak. Jangan lupa, mainan tradisional juga bisa mengenalkan budaya bangsa karena alat musik khas daerah bisa dijadikan mainan anak.
“Yaitu untuk menstimulasi kecerdasan anak melalui tiga cara, visual, auditori atau musik dan fisik. Kreativitas anak juga dapat diasah karena mainan dapat dibuat dari bambu, kayu, pelepah pisang, dan daun kelor,” ujar Chandra yang sedang mengikuti Pameran Internasional Mainan dan Anak di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta.
Hanya dibutuhkan kreativitas, inovasi yang tinggi untuk membuat mainan tradisional sampai bisa menjadi mainan yang benar, berkualitas, dan aman. Dengan demikian tujuan dari mainan tersebut tercapai, yakni untuk mencerdaskan anak.
Chandra berkeliling Indonesia mengunjungi perajin di daerah atau UKM untuk bersama-sama melek pengetahuan tidak hanya menjadi plagiat. Harus bisa berinovasi sendiri membuat mainan yang bahan-bahannya dapat ditemukan di lingkungan sendiri.
“Misalnya perajin bambu bisa membuat alat musik, balok dari bambu atau mainan edukasi berupa bambu berbagai ukuran untuk diisi air. Kalau kita sudah mengerti dan paham mengenai kebutuhan anak, semua bisa jadi mainan edukatif,” ungkapnya.
Pemilik mainan edukatif Chateda ini sudah sampai Papua untuk menemui perajin. Biasanya yang ditemui perajin kerajinan tangan bukan perajin mainan karena tentu saja jarang ditemukan perajin mainan. Chandra melihat potensi alam sekitar yang dapat dijadikan bahan.
Misalnya di Papua banyak bahan pelepah daun tanaman asli di sana. Merek mau mencoba untuk membuat mainan sederhana seperti mobil klotokan yang dimainkan dengan cara mendorong lalu keluar suara juga kincir angin yang jika digoyangkan akan mengeluarkan suara.
“Setelah itu saya melihat skill mereka, hasil serta motivasi. Kalau satu visi-misi, kami ajak gabung,” ujarnya. Berkecimpung di dunia mainan edukatif sejak 1999 membuat Chandra paham dalam membuat mainan untuk tujuan edukasi tidak bisa sembarangan.
Sebelum menjadi pengusaha mainan, memang terlebih dahulu dia aktif di dunia anak dan berkomitmen untuk bukan hanya menjadi penjual, tetapi pendidik melalui mainan. Harus tahu dulu pendidikan anak usia dini itu bagaimana sehingga mainan bisa sesuai menyasar ajaran anak.
Chandra belajar mengenai perkembangan anak, kesesuaian usia sehingga bisa menstimulus seluruh pancaindra. “Kalau saya punya konsultan sendiri saat membuat mainan, tidak asal. Bikin contoh lalu dimainkan dulu oleh beberapa anak, trialerror dulu gitu ke anak-anak,” paparnya.
Chandra juga menyarankan orang tua maupun guru berperan aktif memilih mainan yang sesuai untuk anak. Mainan anak yang benar antara lain mempertimbangkan seperti apa bahan baku yang dipakai, teknik permainannya, atau keamanannya sehingga dengan bermain anak jadi belajar.
0 Response to "Bersosialisasi dengan Mainan Tradisional"
Posting Komentar